KA’BAH

6 12 2010

Ka’bah (Arab:
ةبعكلا
) adalah sebuah bangunan mendekati bentuk
kubus yang terletak di tengah Masjidil Haram di
Mekah. Bangunan ini adalah monumen suci bagi
kaum muslim (umat Islam). Merupakan bangunan
yang dijadikan patokan arah kiblat atau arah
patokan untuk hal hal yang bersifat ibadah bagi
umat Islam di seluruh dunia seperti salat.
Selain itu, merupakan bangunan yang wajib
dikunjungi atau diziarahi pada saat musimhaji
dan umrah.
Sejarahwan, narator dan lainnya memiliki
pendapat berbeda tentang siapa yang telah
membangun Ka’bah. Beberapa pendapat itu ada
yang mengatakan Malaikat, Adam dan Seth.[1]
Dimensi struktur bangunan ka’bah lebih kurang
berukuran 13,10m tinggi dengan sisi 11,03m kali
12,62m. Juga disebut dengan nama Baitallah.
Sejarah perkembangan
Ka’bah yang juga dinamakan Bayt al `Atiq
(Arab:
تيب لا قيتع
, Rumah Tua) adalah bangunan yang dipugar
pada masa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail setelah
Nabi Ismail berada di Mekkah atas perintah
Allah SWT. Dalam Al-Qur’an, surah 14:37
tersirat bahwa situs suci Ka’bah telah ada
sewaktu Nabi Ibrahim menempatkan Hajar dan
bayi Ismail di lokasi tersebut.
Pada masa Nabi Muhammad SAW berusia 30
tahun (sekitar 600 M dan belum diangkat
menjadi Rasul pada saat itu), bangunan ini
direnovasi kembali akibat banjir bandang yang
melanda kota Mekkah pada saat itu. Sempat
terjadi perselisihan antar kepala suku atau
kabilah ketika hendak meletakkan kembali batu
Hajar Aswad namun berkat penyelesaian
Muhammad SAW perselisihan itu berhasil
diselesaikan tanpa pertumpahan darah dan tanpa
ada pihak yang dirugikan.
Pada saat menjelang Muhammad SAW diangkat
menjadi Nabi sampai kepindahannya ke kota
Madinah. Lingkungan Ka’bah penuh dengan patung
yang merupakan perwujudan Tuhan bangsa Arab
ketika masa kegelapan pemikiran (jahilliyah)
padahal sebagaimana ajaran Nabi Ibrahim yang
merupakan nenek moyang bangsa Arab dan
bangsa Yahudi serta ajaran Nabi Musa terhadap
kaum Yahudi, Tuhan tidak boleh disembah dengan
diserupakan dengan benda atau makhluk apapun
dan tidak memiliki perantara untuk
menyembahnya serta tunggal tidak ada yang
menyerupainya dan tidak beranak dan tidak
diperanakkan (Surat Al Ikhlas dalam Al-Qur’an)
. Ka’bah akhirnya dibersihkan dari patung patung
ketika Nabi Muhammad membebaskan kota
Mekkah tanpa pertumpahan darah.
Selanjutnya bangunan ini diurus dan dipelihara
oleh Bani Sya’ibah sebagai pemegang kunci
ka’bah dan administrasi serta pelayanan haji
diatur oleh pemerintahan baik pemerintahan
khalifah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman
bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abu
Sufyan, Dinasti Ummayyah, Dinasti Abbasiyyah,
Dinasti Usmaniyah Turki, sampai saat ini yakni
pemerintah kerajaan Arab Saudi yang bertindak
sebagai pelayan dua kota suci, Mekkah dan
Madinah.
Bangunan Ka’bah
Gambar ruang bangun disertai detail ukuran
Ka’bah
Pada awalnya bangunan Ka’bah terdiri atas dua
pintu serta letak pintu Ka’bah terletak di atas
tanah, tidak seperti sekarang yang pintunya
terletak agak tinggi. Pada saat Muhammad SAW
berusia 30 tahun dan belum diangkat menjadi
rasul, dilakukan renovasi pada Ka’bah akibat
bencana banjir. Pada saat itu terjadi
kekurangan biaya,[rujukan?] maka bangunan
Ka’bah dibuat hanya satu pintu. Adapula
bagiannya yang tidak dimasukkan ke dalam
bangunan Ka’bah, yang dinamakan Hijir Ismail,
yang diberi tanda setengah lingkaran pada salah
satu sisi Ka’bah. Saat itu pintunya dibuat tinggi
letaknya agar hanya pemuka suku Quraisy yang
bisa memasukinya, karena suku Quraisy
merupakan suku atau kabilah yang dimuliakan
oleh bangsa Arab saat itu.
Nabi Muhammad SAW pernah mengurungkan
niatnya untuk merenovasi kembali Ka’bah karena
kaumnya baru saja masuk Islam, sebagaiman
tertulis dalam sebuah hadits perkataannya:
“Andaikata kaumku bukan baru saja
meninggalkan kekafiran, akan aku turunkan
pintu Ka’bah dan dibuat dua pintunya serta
dimasukkan Hijir Ismail ke dalam Ka’bah”,
sebagaimana pondasi yang dibangun oleh Nabi
Ibrahim.
Ketika masa Abdullah bin Zubair memerintah
daerah Hijaz, bangunan itu dibangun kembali
menurut perkataan Nabi Muhammad SAW, yaitu
diatas pondasi Nabi Ibrahim. Namun ketika
terjadi peperangan dengan Abdul Malik bin
Marwan penguasa daerah Syam (Suriah,
Yordania dan Lebanon sekarang) dan Palestina,
terjadi kebakaran pada Ka’bah akibat tembakan
peluru pelontar (onager) yang dimiliki pasukan
Syam. Abdul Malik bin Marwan yang kemudian
menjadi khalifah, melakukan renovasi kembali
Ka’bah berdasarkan bangunan di masa Nabi
Muhammad SAW dan bukan berdasarkan pondasi
Nabi Ibrahim. Ka’bah dalam sejarah selanjutnya
beberapa kali mengalami kerusakan sebagai
akibat dari peperangan dan karena umur
bangunan.
Ketika masa pemerintahan khalifah Harun Al
Rasyid pada masa kekhalifahan Abbasiyyah,
khalifah berencana untuk merenovasi kembali
ka’bah sesuai pondasi Nabi Ibrahim dan yang
diinginkan Nabi Muhammad SAW. namun segera
dicegah oleh salah seorang ulama terkemuka
yakni Imam Malik karena dikhawatirkan nanti
bangunan suci itu dijadikan ajang bongkar
pasang para penguasa sesudah beliau. Sehingga
bangunan Ka’bah tetap sesuai masa renovasi
khalifah Abdul Malik bin Marwan sampai
sekarang.
Penentuan arah kiblat
Untuk menentukan arah kiblat dengan cukup
presisi dapat dilakukan dengan merujuk pada
kordinat Bujur / Lintang dari lokasi Ka’bah di
Mekkah terhadap masing-masing titik lokasi
orientasi dengan menggunakan perangkat GPS.
Untuk kebutuhan tersebut dapat digunakan hasil
pengukuran kordinat Ka’bah berikut sebagai
referensi penentuan arah kiblat. Lokasi Ka’bah,
21°25‘21.2“ Lintang Utara
039°49‘34.1“ Bujur Timur
Elevasi 304 meter (ASL)
Adapun cara sederhana dapat pula dilakukan
untuk melakukan penyesuaian arah kiblat. Pada
saat-saat tertentu dua kali satu tahun,
Matahari tepat berada di atas Mekkah (Ka’bah).
Sehingga jika pengamat pada saat tersebut
melihat ke Matahari, dan menarik garis lurus
dari Matahari memotong ufuk/horizon tegak
lurus, pengamat akan mendapatkan posisi tepat
arah kiblat tanpa harus melakukan perhitungan
sama sekali, asal pengamat tahu kapan tepatnya
Matahari berada di atas Mekkah. Tiap tahun,
Matahari berada pada posisi tepat di atas
Mekkah pada tanggal 28 Mei pukul 16:18 WIB
dan tanggal 16 Juli pukul 16:27 WIB.
Bumi berputar pada sumbu rotasinya dengan
periode 24 jam. Bagi pengamat yang berada di
Bumi, efek yang diamati dari gerak rotasi
adalah benda-benda langit terlihat seolah-olah
berputar mengelilingi Bumi dengan arah gerak
berlawanan dengan arah rotasi Bumi. Bintang-
bintang terlihat bergerak dari timur ke barat.
Ini mirip dengan gerak pohon-pohon yang
diamati saat mengendarai mobil, seolah-olah
pohon-pohon itu bergerak berlawanan arah
dengan gerak mobil. Efek rotasi ini
menyebabkan pengamat mengamati benda-benda
langit (termasuk Matahari) terbit di timur dan
terbenam di barat.
Sementara itu, Bumi mengedari Matahari dengan
periode 1 tahun. Akibatnya, relatif terhadap
bintang-bintang pada bola langit, Matahari
sendiri terlihat berubah posisinya dari hari ke
hari, dan setelah satu tahun, kembali ke posisi
semula. Matahari bergerak kurang lebih ke arah
timur. Namun karena bidang edar Bumi
(ekliptika) tidak sebidang dengan bidang rotasi
Bumi (Ekuator langit), maka gerak Matahari tadi
pun tidak tepat ke arah timur, tetapi
membentuk sudut 23,5º, sesuai dengan besar
sudut antara ekliptika dan ekuator langit.
Dari Bumi, pengamat melihat seolah-olah
Matahari mengitari Bumi. Pengamat melihat
Matahari mengitari Bumi pada bidang ekliptika.
Karena Bidang ekliptika membentuk sudut
terhadap bidang ekuator Bumi, dalam interval
satu tahun itu, Matahari pada satu saat berada
di utara ekuator, dan disaat yang lain berada di
selatan ekuator. Matahari bisa sampai sejauh
23,5º dari ekuator ke arah utara pada sekitar
tanggal 22 Juni. Enam bulan kemudian, sekitar
tanggal 22 Desember, Matahari berada 23,5º
dari ekuator ke arah selatan. Antara 22 Juni
dan 22 Desember, Matahari bergerak ke arah
selatan ekuator, bergerak relatif terhadap
bintang-bintang. Sedangkan antara tanggal 22
Desember dan 22 Juni, Matahari bergerak ke
arah utara ekuator.
Karena gerak tahunannya tersebut
dikombinasikan dengan gerak terbit terbenam
Matahari akibat rotasi Bumi, maka Matahari
menyapu daerah-daerah yang memiliki lintang
antara 23,5º LU dan 23,5º LS. Pada daerah-
daerah di permukaan Bumi yang memiliki lintang
dalam rentang tersebut, Matahari dua kali
setahun akan berada kurang lebih tepat di atas
kepala. Karena Mekkah memiliki lintang 21º 26′
LU, yang berarti berada dalam daerah yang
disebutkan di atas, maka dua kali dalam
setahun, Matahari akan tepat berada di atas
kota Mekkah. Kapan hal ini terjadi, bisa dilihat
dalam almanak, misalnya Astronomical Almanac.
Penentuan arah kiblat dengan cara melihat
langsung posisi Matahari seperti yang
disebutkan di atas (pada tanggal-tanggal
tertentu yang disebutkan di atas), tidaklah bisa
dilakukan di semua tempat. Sebabnya karena
bentuk Bumi yang bundar. Tempat-tempat yang
bisa menggunakan cara di atas untuk penentuan
arah kiblat adalah tempat-tempat yang
terpisah dengan Mekkah kurang dari 90º. Pada
tempat-tempat yang terpisah dari Mekkah lebih
dari 90º, saat Matahari tepat berada di
Mekkah, Matahari (dilihat dari tempat tersebut)
telah berada di bawah horizon. Misalnya untuk
posisi pengamat di Bandung, saat Matahari
tepat di atas Mekkah (tengah hari), dilihat dari
Bandung, posisi Matahari sudah cukup rendah,
kira-kira 18º di atas horizon. Sedangkan bagi
daerah-daerah di Indonesia Timur, saat itu
Matahari telah terbenam, sehingga praktis
momen itu tidak bisa digunakan di sana. Bagi
tempat-tempat yang saat Matahari tepat
berada di atas Ka’bah, Matahari telah berada di
bawah ufuk/horizon, bisa menunggu 6 bulan
kemudian. Pada tiap tanggal 28 November 21:09
UT (29 November 04:09 WIB) dan 16 Januari
21:29 UT (17 Januari 04:29 WIB), Matahari
tepat berada di bawah Ka’bah. Artinya, pada
saat tersebut, jika pengamat tepat menghadap
ke arah Matahari, pengamat tepat membelakangi
arah kiblat. Jika pengamat memancangkan
tongkat tegak lurus, maka arah jatuh bayangan
tepat ke arah kiblat.





ASAL USUL NAMA-NAMA BULAN DALAM TAHUN HIJRIYAH

21 11 2010

Penetapan kalender Hijriyah dilakukan pada zaman Umar bin Khatab, yg menetapkan peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW (ditemani Abu Bakar) dari Mekah ke Madinah. Kalender Hijriyah juga terdiri dari 12 bulan, dengan jumlah hari berkisar 29 – 30 hari. Penetapan 12 bulan ini sesuai dengan firman ALLAH SWT: ”Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (At Taubah(9):36).
1. Muharram. Artinya, yg diharamkan atau menjadi pantangan. Di bulan Muharram, dilarang untuk berperang.
2. Shafar. Artinya, kosong. Di bulan ini, lelaki Arab pergi untuk merantau atau berperang.
3. Rabi’ ul Awal, artinya masa kembalinya kaum lelaki yg merantau (shafar).
4. Rabi’ ul Akhir, artinya akhir masa menetapnya kaum lelaki.
5. Jumadil Awal, artinya awal kekeringan. Maksudnya, mulai terjadi musim kering.
6. Jumadil Akhir, artinya akhir kekeringan. Dengan demikian, musim kering berakhir.
7. Rajab, artinya mulia. Zaman dulu, bangsa Arab sangat memuliakan bulan ini.
8. Sya’ ban, artinya berkelompok. Biasanya bangsa Arab berkelompok mencari nafkah.
9. Ramadhan, artinya sangat panas. Bulan yg memanggang (membakar) dosa, karena di bulan ini kaum Mukmin diharuskan berpuasa/shaum sebulan penuh.
10. Syawwal, artinya kebahagiaan.
11. Zulqaidah, artinya waktu istirahat bagi kaum lelaki Arab. 12. Zulhijjah, artinya yg menunaikan haji.





SEPULUH AMALAN PADA BULAN DZULHIJJAH

14 11 2010

Sesungguhnya termasuk sebagian karunia Allah dan anugerah-Nya adalah Dia menjadikan untuk hamba- hamba-Nya yang shalih waktu- waktu tertentu dimana hamba- hamba tersebut dapat memperbanyak amal shalihnya. Diantara waktu-waktu tertentu itu adalah sepuluh hari (pertama) bulan Dzulhijjah. Berkenaan dengan firman Allah Ta’ ala: ”Demi Fajar, dan malam yang sepuluh.” (QS. Al Hajr:1-2) Mayoritas ulama berpendapat bahwa dalam ayat ini Allah Ta’ ala telah bersumpah dengan “sepuluh hari” pertama dari bulan Dzulhijjah ini. Pendapat ini pula yang dipilih oleh Ibnu Jarir ath Thabari dan Ibnu Katsir rahimakumullah dalam kitab tafsir mereka. Hari-hari sepuluh pertama bulan
Dzulhijjah ini memiliki beberapa keutamaan dan keberkahan, dan penjelasannya sebagai berikut:
PERTAMA : beramal shalih pada sepuluh hari ini memiliki keutamaan yang lebih dibanding dengan hari-hari lainnya. Imam Al Bukhari telah meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma dari Nabi Shalallahu ‘ Alaihi Wassalam, bahwa beliau bersabda: “Tidaklah ada amal yang lebih utama daripada amal-amal yang dikerjakan pada sepuluh hari Dzulhijjah ini.” Lalu para sahabat bertanya, “Tidak juga Jihad?” Nabi Shalallahu ‘ Alaihi Wassalam menjawab,”Tidak juga Jihad, kecuali seseorang yang keluar (untuk berjihad) sambil mempertaruhkan diri (jiwa) dan hartanya,lalu kembali tanpa membawa sesuatupun.” (HR. Bukhari). Dari Said bin Jubair rahimahullah, dan dia yang meriwayatkan hadits Ibnu Abbas radhiallahu anhuma yang lalu, “Jika kamu masuk ke dalam sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, maka bersungguh- sungguhlah sampai hampir saja ia tidak mampu menguasainya (melaksanakannya).” (HR. Ad Darimi, hadits hasan) Ibnu Hajar berkata dalam kitabnya Fathul Baari: “Sebab yang jelas tentang keistimewaan sepuluh hari di bulan Dzulhijjah adalah karena pada hari tersebut merupakan waktu berkumpulnya ibadah- ibadah utama; yaitu shalat, shaum, shadaqah dan haji. Dan itu tidak ada di hari-hari selainnya.”
KEDUA : keutamaan yang lebih khusus pada hari kesembilan sebagai hari ‘ Arafah. Pada hari ini para jama’ ah Haji melaksanakan wukuf di ‘ Arafah, dan wukuf ini merupakan rukun utama dari ibadah Haji. Karenanya hari ini menjadi hari yang memiliki keitamaan yang agung dan keberkahan yang melimpah. Diantara keutamaannya, bahwa sesungguhnya Allah menggugurkan dosa-dosa (dosa kecil) selama dua tahun bagi orang yang berpuasa pada hari ‘ Arafah. Dari Abu Qatadah al Anshari radhiallahu anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘ Alaihi Wassalam pernah ditanya tentang puasa pada hari ‘ Arafah, maka beliau Shalallahu ‘ Alaihi Wassalam bersabda, “(Puasa pada hari itu) mengugurkan dosa-dosa setahun yang lalu dan dosa-dosa setahun berikutnya.” (HR.Muslim) Di sunnahkan pula untuk berpuasa ‘ Arafah bagi mereka yang tidak ber Haji (yang berada di luar ‘ Arafah). Sebagaimana petunjuk Nabi Shalallahu ‘ Alaihi Wassalam, adalah beliau berbuka (tidak berpuasa) ketika berada di ‘ Arafah pada hari ‘ Arafah (sedang ber haji). (lihat shaih Bukhari kitab al Hajj dan shahih Muslim kitab ash Shiyaam) Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan, “Berbukanya Rasulullah Shalallahu ‘ Alaihi Wassalam pada hari ‘ Arafah itu mengandung beberapa hikmah, diantaranya memperkuat do’ a di ‘ Arafah, bahwa berbuka dai puasa yang wajib saja disaat perjalanan safar lebih utama , maka apa lagi dengan puasa yang hanya hukumnya sunnah…” Ibnul Qoyyim melanjutkan, “Guru kami, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengambil jalan yang berbeda dengan orang lain, yaitu bahwa hari ‘ Arafah merupakan hari raya bagi mereka yang sedang berwukuf di ‘ Arafah dikarenakan pertemuan mereka disana, seperti pertemuan mereka di hari raya (yaumul ‘ Ied), dan pertemuan ini hanya khusus bagi mereka yang berada di ‘ Arafah saja, tidak bagi yang selain mereka…” (Zaadul Ma’ aad) Dan di antara keberkahan hari ‘ Arafah berikutnya, pada hari itu banyak orang yang dibebaskan oleh Allah Ta’ ala, dia mendekat ke langit dunia dan membangga-banggakan para jama’ ah Haji di hadapan para Malaikat. Dari ‘ Aisyah radhiallahu anha, ia berkata, Rasulullah Shalallahu ‘ Alaihi Wassalam bersabda: “Tidak ada hari yang Allah lebih banyak membebaskan hamba-Nya dari adzab neraka daripada hari ‘ Arafah. Sesungguhnya Dia (pada hari itu) mendekat, kemudian menbangga- banggakan mereka (para jama’ ah Haji) dihadapan para Malaikat.” Lalu Dia bertanya,”Apa yang diinginkan oleh para jama’ ah Haji itu?” (HR. Muslim) Dan dari Jabir bin ‘ Abdillah radhiallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shalallahu ‘ Alaihi Wassalam bersabda, “Pada hari ‘ Arafah sesungguhnya Allah turun ke langit dunia, lalu membangga- banggakan mereka (para jama’ ah Haji) di hadapan para Malaikat, maka Allah berfirman,’ Perhatikan hamba-hamba-Ku, mereka datang kepada-Ku dalam keadaan kusut berdebu dan tersengat teriknya matahari, datang dari segala penjuru yang jauh. Aku bersaksi kepada kalian (para Malaikat) bahwa Aku telah mengampuni
mereka.’” (HR.Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, al Laalikai, dan Imam al Baghawi, hadits shahih) KETIGA : keutamaan hari ke sepuluh bulan Dzulhijjah, yaitu ‘ Iedul Adh-ha yang disebut juga yaumul Nahr. Dalil yang menunjukkan keutamaan dan keagungan hari ‘ Iedul Adh-ha adalah hadits yang diriwayatkan oleh ‘ Abdullah bin Qurth radhiallahu anhu, dari Nabi Shalallahu ‘ Alaihi Wassalam bahwa beliau bersabda: “Hari teragung di sisi Allah adalah hari ‘ Iedul Adh-ha (yaumul Nahr) kemudian sehari setelahnya…” (HR. Abu Dawud) Dan hari yang agung ini dinamakan juga sebagai hari Haji Akbar. Sebagaimana Allah Ta’ ala berfirman: “Dan (inilah) suatu pemakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada manusia pada hari haji akbar.” (QS. At Taubah:3) Dan Rasulullah Shalallahu ‘ Alaihi Wassalam juga menyebut hari agung ini dengan sebutan yang sama. Karena sebagian besar amalan-amalan manasik Haji dilakukan pada hari ini, seperti menyembelih kurban, memotong rambut, melontar jumrah dan Thawaf mengelilingi Ka’ bah. (Zaadul Ma’ aad). Pada hari yang penuh berkah ini, kaum muslimin berkumpul untuk melaksanakan shalat ‘ Ied dan mendengarkan khutbah hingga para wanita pun disyari’ atkan agar keluar rumah untuk kepentingan ini. Sebagaimana dalam ash Shahihain, bahwa Ummu ‘ Athiyyah Nusaibah binti al Harits berkata: “Kami para wanita diperintahkan untuk keluar pada hari ‘ Ied hingga hingga kami mengeluarkan gadis dalam pingitan. Juga mengajak keluar wanita-wanita yang sedang haidh, berada di belakang orang-orang. Mereka bertakbir dengan takbirnya dan mereka berdo’ a dengan do’ anya. Mengharapkan keberkahan dan kesucian dari hari yang agung ini.” (HR. Bukhari dan Muslim) Al Hafidz Ibnu Hajar berkomentar tentang maksud dari kehadiran para wanita tersebut di hari agung ini, sehingga para wanita berhalangan tidak luput dari perintah keluar untuk menghadirinya: “Maksud dari kehadiran mereka adalah menampakkan syi’ ar Islam dengan memaksimalkan berkumpulnya kaum muslimin agar barakah hari yang mulia ini dapat meliputi mereka semua.” (Fathul Baari) Pada hari ini dan setelahnya, yaitu pada hari-hari tasyriq, kaum muslimin bertaqarrub kepada Allah Ta’ ala melalui penyembelihan hewan kurban. Dan menyembelih hewan kurban merupakan sebuah syi’ ar yang agung dari syi’ ar Islam. Namun apakah sepuluh hari Dzulhijjah ini lebih mulia dari sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan? Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjawab persoalan ini dg jawaban yg tuntas, dimana beliau menyatakan, “Sepuluh hari Dzulhijjah lebih utama daripada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Dan sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan lebih utama dari sepuluh malam bulan Dzulhijjah.” (Majmu Fatawa Ibnu Taimiyyah) Muridnya Ibnul Qoyyim rahimahullah juga menyatakan,” Ini menunjukkan bahwa sepuluh malan terakhir dari bulan Ramadhan menjadi lebih utama karena adanya laitatul Qadr, dan lailatul Qadr ini merupakan bagian dari waktu-waktu malamnya. sedangkan sepuluh hari Dzulhijjah mejadi lebih utama karena hari-harinya (siangnya), karena didalamnya terdapat yaumun Nahr (hari berkurban), hari ‘ Arafah dan hari Tarwiyah (hari ke delapan Dzulhijjah). (Zadul Maa’ ad) MACAM-MACAM AMALAN YANG DISYARI’ ATKAN 1. Shalat Disunnahkan untuk bersegera dalam melaksanakan hal-hal yang wajib dan memperbanyak amalan-amalan sunnah, karena itu adalah sebaik-baik cara untuk mendekatkan diri kepada Allah. Telah diriwayatkan dari Tsauban radhiallahu anhu, ia berkata, ‘ Saya mendengar Rasulullah Shalallahu ‘ Alaihi Wassalam bersabda: “Hendaklah kamu memperbanyak sujud untuk Allah. Karenaa kamu tidak bersujud kepada Allah sebanyak satu kali sujud kecuali Allah akan mengangkatmu satu derajat dan Allah akan menghapuskan darimu satu
kesalahan.” (HR. Muslim) Ketetapan ini berlaku umum, untuk segala waktu.
2. Melaksanakan Haji dan ‘ Umrah Amal ini adalah amal yang paling utama, berdasarkan berbagai hadits shahih yang menunjukkan keutamaannya, salah satunya adalah sabda Nabi Muhammad Shalallahu ‘ Alaihi Wassalam: “Dari umrah ke umrah adalah tebusan (dosa-dosa
yg dikerjakan) di antara keduanya, dan haji yang mabrur balasannya tiada lain adalah surga.” (HR. Muslim) 3. Berpuasa Pada Hari-Hari Tersebut, Terutama Pada Hari ‘ Arafah Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yg paling utama dan yg dipilih Allah untuk diri-Nya. Disebutkan dalam hadits qudsi, artinya: “Puasa itu adalah untuk- Ku, dan Akulah yang akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata-mata karena Aku.” Diriwayatkan dai Abu Said Al Khudri radhiallahu anhu, Rasulullah Shalallahu ‘ Alaihi Wassalam bersabda: “Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dengan puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun.” (HR. Bukhari dan Muslim) Diriwayatkan dari Abu Qatadah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘ Alaihi Wassalam bersabda: “Berpuasa pada hari ‘ Arafah melebur dosa- dosa setahun sebelum dan sesudahnya.” (HR. Muslim) Dari Hinaidah bin Khalid radhiallahu anhu, dari istrinya dari sebagian istri-istri Rasululllah Shalallahu ‘ Alaihi Wassalam, dia berkata: “Adalah Rasulullah Shalallahu ‘ Alaihi Wassalam berpuasa pada tanggal sembilan Dzulhijjah, sepuluh Muharram dan tiga hari setiap bulan.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Nasa’ i) Imam Nawawi berkata tentang puasa sepuluh hari bulan Dzulhijjah: “Sangat di sunnahkan.” 4. Takbir, Tahlil dan Tahmid Serta Dzikir Sebagaimana firman Allah Ta’ ala: “… dan agar mereka menyebutkan nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan…” (QS. Al Hajj:28) Para ahli tafsir menafsiri bahwa yang dimaksud dengan “hari- hari yang telah ditentukan” adalah sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Oleh karena itu, para ulama menganjurkan untuk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut, berdasarkan hadits dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma yang artinya, “maka perbanyaklah pada hari- hari itu tahlil, takbir, dan tahmid.”(HR. Ahmad) Imam Bukhari rahimahullah berkata:” Ibnu Umar dan Abu Hurairah radhiallahu anhum keluar ke pasar pada hari-hari sepuluh (sepuluh hari pertama) dalam bulan Dzulhijjah seraya mengumandangkan takbir lalu orang-orang pun mengikuti takbir keduanya.” Dia juga berkata,” Umar bertakbir dikubahnya sampai orang-orang masjid mendengarnya, maka mereka bertakbir dan bertakbir pula orang-orang yang ada di pasar-pasar sampai gemuruh takbir itu menguasai pendengaranku.” Ibnu ‘ Umar bertakbir di Mina pada hari-hari itu, bertakbir juga setelah melakukan shalat, saat berada di atas ranjangnya, di perkemahannya, di majelisnya, dan diwaktu berjalan di jalan-jalan sepanjang hari-hari itu. Disunnahkan pula untuk bertakbir dengan suara yang keras berdasarkan perbuatan Umar, anak lelakinya dan Abu Hurairah. Bentuk Takbir Telah diriwayatkan tentang bentuk-bentuk takbir yang diriwayatkan oleh para sahabat dan tabi’ in diantaranya: a. Allaahu akbar, Allaahu akbar, Allaahu akbar kabiraa b. Allaahu akbar, Allaahu akbar, laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar, Allaahu akbar wa lillaahil hamdu. c. Allaahu akbar, Allaahu akbar, Allaahu akbar, laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar, Allaahu akbar, Allaahu akbar, wa lillaahil hamdu. Tidak boleh mengumandangkan takbir bersama-sama, yaitu dengan berkumpul pada suatu majelis dan mengucapkannya dengan satu suara. Hal ini tidak pernah dilakukan oleh para salaf. Menurut sunnah adalah masing-masing orang bertakbir sendiri-sendiri. Hal tersebut berlaku pada semua dzikir dan berdo’ a, kecuali jika ia tidak mengerti sehingga ia harus belajar dengan mengikuti orang lain. 5. Taubat Serta Meninggalkan Segala Maksiat dan Dosa, Sehingga Akan Mendapatkan Ampunan dan
Rahmat Allah Ta’ ala. Maksiat adalah penyebab terjauhkan dan terusirnya hamba Allah Ta’ ala dan ketaatan adalah penyebab dekat dan cinta kasih Allah Ta’ ala kepadanya. disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Nabi Shalallahu ‘ Alaihi Wassalam bersabda: “Sesungguhnya Allah itu cemburu, dan kecemburuan Allah itu manakal seorang hamba melakukan apa yang diharamkan Allah terhadapnya.” (HR. Bukhari dan Muslim) 6. Banyak Beramal Shalih Memperbanyak amalan-amalan shalih berupa ibadah sunnah seperti: shalat, sedekah, jihad, membaca Al Qur’ an, amar ma’ ruf nahi munkar dan lain sebagainya. Sebab amalan- amalan tersebut pada hari itu dilipatgandakan pahalanya. Amalan yang tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lebih utama dan dicintai Allah daripada amal ibadah pada hari lainnya meskipun merupakan amal ibadah utama. Sekalipun jihad yang merupakan
amal ibadah yang utama, kecuali jihadnya orang yang tidak kembali dengan harta dan jiwanya. 7. Berkurban Pada Hari Raya Qurban dan Hari-Hari Tasyriq Hal ini adalah sunnah Nabi Ibrahim ‘ Alaihis Salam yakni ketika Allah menebus putranya dengan sembelihan yang agung dan juga sunnah Nabi Muhammad Shalallahu ‘ Alaihi Wassalam. Tentang keutamaan hari raya kurban , telah di jelaskan diatas dalam pasal ketiga (keutamaan yaumul Nahr) keutamaan sepuluh hari bulan Dzulhijjah. 8. Melaksanakan Shalat Idul Adh-ha dan Mendengarkan
Khutbahnya. Setiap muslim hendaknya memahami hikmah disyari’ atkannya hari raya ini. Hari ini adalah hari bersyukur dan beramal kebajikan. Maka janganlah dijadikan sebagai hari keangkuhan dan kesombongan; janganlah dijadikan kesempatan bermaksiat dan bergelimang dalam kemungkaran seperti: nyanyi-nyanyian, main judi, mabuk-mabukkan dan sejenisnya. Dimana hal tersebut akan menyebabkan terhapusnya amal kebajikan yang dilakukannya selama sepuluh hari. Tentang keutamaan hari ini , telah dijelaskan sebagiannya diatas. Selain hal-hal yang telah disebutkan diatas, hendaknya setiap muslim dan muslimah mengisi hari-hari ini dengan melakukan ketaatan, dzikir dan syukur kepada Allah, melaksanakan segala kewajiban dan menjauhi segala larangan; memanfaatkan kesempatan ini dan berusaha memperoleh kemurahan Allah agar mendapat ridha-Nya. KEUTAMAAN HARI-HARI TASYRIQ Hari Tasyriq adalah tiga hari (tgl 11,12,13 dzulhijjah) setelah yaumun Nahr, dinamakan hari tasyriq karena pada hari itu orang-orang mengeringkan atau mendendengkan dan menyebarkan daging kurban. (Syarhun Nawawi li Shaihi Muslim). Allah Ta’ ala berfirman: “Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang.” (QS. Al Baqarah :203) Berkata Ibnu Abbas radhiallahu anhuma: “’ dalam beberapa hari yang berbilang’ adalah hari- hari tasyriq.” Dalam Shahih Muslim dari hadits Nabisyah al Hadzali radhiallahu anhu, ia berkata, Rasulullah Shalallahu ‘ Alaihi Wassalam bersabda, “Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum.” Dan dalam suatu riwayat dengan tambahan: “Dzikir kepada Allah.” (HR. Muslim) Dan terdapat pula di dalam as Sunnan dari ‘ Uqbah bin Amir radhiallahu anhu bahwa dia berkata, Rasulullah Shalallahu ‘ Alaihi Wassalam bersabda: “Hari ‘ Arafah, hari raya kurban dan hari-hari tasyriq merupakan hari raya kita pemeluk Islam, dan dia merupakan hari- hari makan dan minum.” (HR. Abu Dawud) Ibnu Rajab rahimahullah menyatakan,” Dalam sabda Rasulullah Shalallahu ‘ Alaihi Wassalam bahwa hari-hari tersebut merupakan ‘ hari-hari makan dan minum serta dzikir kepada Allah’ , sebagai sebuah isyarat bahwa makan dan minum pada hari-hari raya tersebut merupakan mekanisme
yang membantu untuk meningkatkan dzikir kepada Allah dan ketaatan kepada-Nya. Sebagai bagian dari kesempurnaan mensyukuti nikmat Allah, yaitu menjadikan hari-hari makan dan minum sebagai alat yang menolongnya untuk berbuat ta’ at kepada- Nya…” (Latha iful Ma’ aarif, Ibnu Rajab) Pada hari-hari ini disyari’ atkan untuk bertakbir sebagaimana dilakukan oleh para Sahabat radhiallahu anhum dan generasi Salaf yang datang setelah masa
mereka (para Sahabat). Takbir ini juga merupakan salah satu bentuk dari berbagai dzikir kepada Allah. Adapun waktu bertakbir, para ulama memiliki beberapa pendapat. Dan pendapat yang paling shahih dan masyhur bahwa takbir dimulai dari pagi hari ‘ Arafah sampai akhir hari Tasyriq. (Tafsir Ibnu Katsir dan Fathul Baari). Dalil-dalil yang mengidentifikasikan kemuliaan hari-hari tasyriq ini adalah jatuhnya masa pelaksanaan beberapa amalan manasik Haji pada hari-hari tasyriq tersebut, seperti hari (mabit) di
Mina, hari-hari melontar jumrah, hari-hari menyembelih hewan kurban dan lain sebagainya. Dan di antara hari- hari tasyriq sendiri, maka hari yang paling utama pada periode
tersebut adalah hari pertamanya, sebagaimana dalam hadits berikut: “Hari teragung di sisi Allah adalah hari ‘ Iedul Adh-ha (yaumun Nahr) kemudian sehari setelahnya (yaumul qarri)…” (HR. Abu Dawud) Dinamakan yaumul qarri karena pada hari itu mereka berada di Mina dan berdiam diri disana.








Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.